Minggu, 06 Juni 2010

Jenis-jenis Profesi dan Metode Audit dalam Informasi Teknologi

Jenis-jenis Profesi

Teknologi sendiri dapat diartikan sebagai alat rekayasa manusia yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan, sehingga dapat disimpulkan bahwa teknologi informasi adalah suatu alat hasil dari rekayasa manusia yang digunakan untuk menghasilkan sebuah informasi.
Teknologi Informasi adalah teknologi yang menggabungkan komputasi (komputer) dengan jalur komunikasi yang membawa data, suara ataupun video. Berikut ini jenis-jenis dalam profesi dunia Teknologi Informasi :
1. Database Administrator
• Mengelola basis data pada suatu organisasi
o Kebijakan tentang data
o Ketersediaan dan integritas data
o Standar kualitas data
• Ruang lingkup meliputi seluruh organisasi/ perusahaan
2. Grafik Designer
• Membuat desain grafis, baik itu web maupun animasi
• Perlu menguasai web design dan aplikasi berbasis web
3. Konsultan IT
• Menganalisa hal-hal yang berhubungan dengan TI
• Memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi
• Penguasaan masalah menjadi sangat penting
4. Network Specialist
• Kemampuan :
o Merancang dan mengimplementasikan jaringan komputer
o Mengelola jaringan komputer
• Tugas :
o Mengontrol kegiatan pengolahan data jaringan
o Memastikan apakah sistem jaringan komputer berjalan dengan semestinya
o Memastikan bahwa tingkat keamanan data sudah memenuhi syarat
5. Operator
• Menangani operasi sistem komputer
• Tugas-tugas, antara lain :
o Menghidupkan dan mematikan mesin
o Melakukan pemeliharaan sistem komputer
o Memasukkan data
• Tugas biasanya bersifat reguler dan baku
6. Project Manager
• Mengelola proyek pengembangan software
• Tugas: meyakinkan agar pengembangan software
o Dapat berjalan dengan lancar
o Menghasilkan produk seperti yang diharapkan
o Menggunakan dana dan sumber daya lain seperti yang telah dialokasikan
7. Programer
• Kemampuan :
o Membuat program berdasarkan permintaan
o Menguji dan memperbaiki program
o Mengubah program agar sesuai dengan sistem
• Penguasaan bahasa pemrograman sangat ditekankan
8. Sistem Analis and Designer
• Melakukan analisis terhadap sebuah sistem & mengidentifikasi kelebihan, kelemahan, dan problem yang ada
• Membuat desain sistem berdasarkan analisis yang telah dibuat
• Keahlian yang diperlukan :
o Memahami permasalahan secara cepat dan akurat
o Berkomunikasi dengan pihak lain
9. Teknisi Komputer
• Memiliki kemampuan yang spesifik, baik dalam bidang hardware maupun software
• Mampu menangani problem-problem yang bersifat spesifik


Seperti bidang yang lainnya, Teknologi Informasi juga memiliki banyak jenis profesi. Dan diambil dari 2 komponen penunjang Teknologi diatas juga dapat menciptakan sebuah bisnis atau lapangan pekerjaan yang dapat dijadikan sebuah profesi di bidang Teknologi Informasi. Berikut ini beberapa jenis profesi di bidang teknologi Informasi, antara lain :
Profesi yang lebih khusus untuk bidang tekhnik pemrograman perangkat lunak diantaranya adalah :

• Application engineer :
• Game programmer
• Computer programmer
• O/S designer/engineer
• S/W application architect

Profesi yang lebih khusus untuk bidang media interaktif diantaranya adalah :
• Web designer
• Web master
• 3D animator
• Virtual reality specialist
• Multimedia producer
• Graphic artist

Profesi yang lebih khusus untuk bidang sistem jaringan diantaranya adalah :
• Network administrator
• Network technician
• PC support specialist
• Telecom network specialist
• Data communication specialist
• Security administrator

Profesi yang lebih khusus untuk bidang layanan dan dukungan informasi diantaranya adalah :
• Technical support engineer
• Technical writer
• Instructional designer
• Application integrator
• Database administrator
• Enterprise system engineer
• Help desk specialist

Kemajuan dan kebutuhan teknologi informasi ini membutuhkan banyak tenaga profesional dalam pengembangan dan pelayanannya. Tenaga profesional ini tergabung dalam sebuah profesi, yaitu profesi TI atau para profesional yang bekerja dalam bidang teknologi informasi yaitu :

1. Programming Software Engineering
Bidang ini mengkhususkan diri ke dalam pemrograman dan pengembangan perangkat lunak. Beberapa jenis pekerjaan yang masuk ke dalam bidang ini antara lain:
1. Application Engineer
2. Game Programmer
3. Computer Programmer
4. OS Designer/Engineer
5. Software Application Architect

2. Network System
Jenis pekerjaan ini menspesialisasikan diri kepada pembuatan dan pemeliharaan jaringan. Beberapa jenis pekerjaan yang masuk ke dalam bidang ini antara lain:
1. Network Administrator
2. Network Technician
3. PC Support Spesialis
4. Telecommunication Network Specialist
5. Data Communication Analist
6. Security Administrator

3. Information Support and Service
Para profesional di bidang ini menyediakan layanan dan bantuan informasi.Beberapa jenis pekerjaan yang masuk ke dalam bidang ini antara lain:
1. Technical Support Engineer
2. Technical Writer
3. Instructional Designer
4. Application Integrator
5. Database Administrator
6. Enterprise System Engineer
7. Help Desk Specialist
8. Database Development and Administration
9. Enterprise System Analysis and Integration
10. Technical Support
11. Technical Writing

4. Interactive Media
Sesuai dengan namanya, jenis profesi ini lebih berhubungan dengan media interaktif. Beberapa jenis pekerjaan yang masuk ke dalam bidang ini antara lain:
1. Web Designer
2. Web Master
3. 3D Animator
4. Virtual Reality Specialist
5. Multimedia Producer
6. Graphic Art
7. Digital Media
8. Web Development and Administrator

Metode Audit dalam Informasi Teknologi

Audit informasi teknologi adalah bentuk pengawasan dan pengendalian dari infrastruktur teknologi informasi secara menyeluruh. Audit teknologi informasi ini dapat berjalan bersama-sama dengan audit finansial dan audit internal, atau dengan kegiatan pengawasan dan evaluasi lain yang sejenis. Pada mulanya istilah ini dikenal dengan audit pemrosesan data elektronik, dan sekarang audit teknologi informasi secara umum merupakan proses pengumpulan dan evaluasi dari semua kegiatan sistem informasi dalam perusahaan itu. Istilah lain dari audit teknologi informasi adalah audit komputer yang banyak dipakai untuk menentukan apakah aset sistem informasi perusahaan itu telah bekerja secara efektif, dan integratif dalam mencapai target organisasinya.

Banyak kendala yang dijumpai auditor dalam melakukan audit dengan metode konvensional dalam lingkungan pemrosesan data elektronik. Namun seringkali kendala tersebut cenderung diabaikan dan kurang mendapat perhatian serius bahkan oleh si auditor sendiri. Akibatnya terjadi inefisiensi yang tidak disadari.
Seringkali dalam lingkungan Pemrosesan Data Elektronik, volume dan kompleksitas data yang harus diperiksa jauh lebih besar dibandingkan dengan kemampuan auditor, akhirnya jalan pintas pun sering dilakukan, misalnya menggunakan sampling dilakukan secara acak tanpa memperhatikan apakah sampling tersebut cukup mewakili atau tidak.

Juga kadang jika melakukan substantive test atas data hanya didasarkan pada print-out dengan cara manual, serta audit trail yang tidak terdeteksi karena sistem operasi telah terkomputerisasi.
Pada akhirnya adalah kesimpulan audit dapat dipastikan tidak akan memadai, yang akhirnya opini terhadap laporan keuangan secara keseluruhan tidak memiliki dasar yang memadai dan gilirannya berdampak pada terciptalnya informasi yang menyesatkan.

Dalam kegiatan auditing paling tidak mempunyai karakteristik sebagai berikut:

o Objektif: independen yaitu tidak tergantung pada jenis atau aktivitas organisasi yang diaudit
o Sistematis: terdiri dari tahap demi tahap proses pemeriksaan
o Ada bukti yang memadai: mengumpulkan, mereview, dan mendokumentasikan kejadian-kejadian
o Adanya kriteria: untuk menghubungkan pemeriksaan dan evaluasi bukti–bukti

Sebenarnya konsep dan prinsip auditing baik di lingkungan manual dan lingkungan sistem informasi yang berbasis komputer tidak berubah, yang berubah adalah metode dan tekniknya saja. Beberapa teknik dan metode tersebut berbeda karena antara lain disebabkan:

* Otomatisasi, yaitu seluruh proses di dalam pemrosesan data elektronik mulai dari input hingga output cenderung secara otomatis, bentuk penggunaan dan jumlah kertas cenderung minimal, bahkan seringkali tidak ada (paperless office) sehingga untuk penelusuran dokumen (tracing) audit berkurang dibandingkan sistem manual yang banyak menggunakan dokumen dan kertas.
* Keterkaitan aktivitas yang berhubungan dengan catatan-catatan yang kurang terjaga.
* Dengan sistem on line mengakibatkan output seringkali tidak tercetak.
* “Audit Arround Computer” yang mengabaikan sistem komputer tetapi yang dilihat atau yang diuji adalah Input dan Output.
* ”Audit Through Computer” menggunakan bantuan komputer (atau software) untuk mengaudit.

Jika pelaksanaan audit di sistem informasi berbasis komputer dilakukan secara konvensional terhadap lingkungan PDE seperti dalam sistem manual, maka cenderung tidak menghasilkan hasil yang memuaskan, baik oleh klien maupun auditor sendiri, bahkan cenderung tidak efisien dan tidak terarah.

Untuk itu seringkali dalam proses pengembangan sebuah sisem informasi akuntansi berbasis komputer melibatkan akuntan. Jika akuntan terlibat dalam desain sistem PDE sebuah organisasi maka akan memudahkan pengendalian dan penelusuran audit ketika klien tersebut meminta untuk pekerjaan audit. Ada 2 keuntungan jika seorang akuntan terlibat dalam disain sistem informasi dalam lingkungan pemrosesan data elektronik, yaitu pertama, meminimalisasi biaya modifikasi sistem setelah implementasi dan kedua, mengurangi pengujian selama proses audit
Tahapan Proses Audit

Dalam melaksanakan tugasnya, auditor yang akan melakukan proses audit di lingkungan PDE mempunyai 4 tahapan audit sebagai berikut:

1. Perencanaan Audit (Audit Planning)

Tujuan perencanaan audit adalah untuk menentukan why, how, when dan by whom sebuah audit akan dilaksanakan. Aktivitas perencanaan audit meliputi:

* Penetapan ruang lingkup dan tujuan audit
* Pengorganisasian tim audit
* Pemahaman mengenai operasi bisnis klien
* Kaji ulang hasil audit sebelumnya (jika ada)
* Mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi resiko audit
* Penetapan resiko dalam lingkungan audit, misalkan bahwa inherent risk, control risk dan detection risk dalam sebuah on-line processing, networks, dan teknologi maju database lainnya akan lebih besar daripada sebuah sistem akuntansi manual.

2. Penyiapan program audit (Prepare audit program)
Yaitu antara lain adalah:

Mengumpulkan bukti audit (Collection of Audit Evidence) yang meliputi:
* Mengobservasi aktivitas operasional di lingkungan PDE
* Mengkaji ulang sistem dokumentasi PDE
* Mendiskusikan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan petugas berwenang.
* Pengujian keberadaan dan kondisi fisik aktiva.
* Konfirmasi melalui pihak ketiga
* Menilai kembali dan re-performance prosedur sistem PDE.
* Vouching ke dokumen sumber
* Analytical review dan metodesampling

3. Evaluasi bukti (Evaluation of Audit Evidence).

Auditor menggunakan bukti untuk memperoleh keyakinan yang memadai (reasonable assurance), jika inherent risk dan control risk sangat tinggi, maka harus mendapatkan reasonable assurance yang lebih besar. Aktivitas evaluasi bukti yang diperoleh meliputi:

1. Menilai (assess) kualitas pengendalian internal PDE
2. Menilai reliabilitas informasi PDE
3. Menilai kinerja operasional PDE
4. Mempertimbangkan kembali kebutuhan adanya bukti tambahan.
5. Mempertimbangkan faktor resiko
6. Mempertimbangkan tingkat materialitas
7. Bagaimana perolehan bukti audit.

4. Mengkomunikasikan hasil audit

Auditor menyiapkan beberapa laporan temuan dan mungkin merekomendasikan beberapa usulan yang terkait dengan pemeriksaan dengan di dukung oleh bukti dan dalam kertas kerjanya. Setelah direkomendasikan juga harus dipantau apakah rekomendasinya itu ditindaklanjuti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar